[Ruang Renung # 234] Mawar, Melati dan Puring
“Buat apa menulis atau membaca puisi? Puisi tak akan membuat kita kenyang…” Pernahkah dilabrak dengan pernyataan seperti itu?
Bahkan, petani pun menanam kunyit, jahe, daun katuk, dan ubi kayu di sisa sedikit lahan di pematang juga di dekat pondoknya. Tanaman-tanaman itu tidak akan pernah membuat kenyang. Si petani kenyang ketika ia makan nasi yang kelak dipanen dari padi yang ditanam di sawahnya. Kunyit, jahe, daun katuk, dan pucuk ubi kayu menjadi lauk dan lalap pendamping ketika petani mendapatkan kenyang dari si nasi.
Apakah petani dilarang menanam yang selain padi itu karena tidak akan bisa mengenyangkannya?
Bahkan si petani pun kadang menanam mawar, melati, puring di halaman pondoknya itu. Mawar, melati yang ia petik bunganya, ia dapatkan wanginya dan ia taburkan di kasurnya.
Apakah petani tak boleh menanam mawar, melati dan puring?
Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 9:14:00 AM
Saya menulis 11 Gurindam. Kompas memuat 9. Inilah dua Gurindam yang tak termuat itu.
10. Gurindam Pasal yang Kesepuluh:
Menuju Sajak, Jalan Sajak
Bila kau berkata, “aku sedang menuju sajak!”
Yakinkah kau? Kau sedang menempuh jalan Sajak?
Bila kau berkata, “aku telah sampai pada sajak!”
Tahukah kau? Selalu ada yang lebih Sajak dari sajak?
Bila kau berkata, “aku telah menemu yang paling sajak!”
Sadarkah kau? Saat itu kau ditinggalkan banyak sajak?
Bila kau berkata, “aku bersajak, ah, percuma saja!”
Padahal sajak adalah pemakna pada yang sia-sia.
Bila kau berkata, “aku tak menemu diri dalam sajakku”
Sajak membawa kau mengenali dirimu dalam dirimu.
11. Gurindam Pasal yang Kesebelas:
Ladang Sajak, Ladang Mawar
Tanah hitam di ladang sajak yang mawar,
menyimpan cinta, mendekap tubuh akar.
Embun mandi di ladang sajak yang mawar,
memanggil, lalu datang pelangi selingkar.
Sinar matahari di ladang sajak yang mawar,
mengecup pipi pagi, rindu semalam terbayar.
Semak gulma di ladang sajak yang mawar,
tanggal gugur duri, tinggal sesulur yang sabar.
Angin datang lalu, di ladang sajak yang mawar,
memetik wangi-wangi, menebar benih kabar.
Diam batu di ladang sajak yang mawar,
menahan-nahan takjub meredam debar.
Siul-siul serunai di ladang sajak yang mawar,
ketika sepi pun ia, alangkah merdu kau dengar.
Burung hinggap di ranting sajak ladang mawar,
bermimpi rajut sarang di mekar kelopak mekar.
Akulah Petani Puisi, di ladang yang mawar,
memetik sajak-sajak di tangkai cahaya fajar.
Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 9:02:00 AM
May 12, 2008
Kebohongan tentang Jakarta, Mikael!
Dalam diri orang sinis adalah seorang
idealis yang kecewa — George Carlin
AKU tak tahu seperti apa
rasanya dikangkangi New York, Tuan Rendra!
Aku melihat pedih di selangkang Jakarta
Aku melihat seribu cukong berak di atas kepalanya.
Kakiku sebelah tertinggal di Soekarno-Hatta,
aku lari pincang dan tak sampai juga ke Istana Negara
Maskapai Lion Air itu tadi
bikin papan jadwal mahal itu tidak berguna.
“Buat apa singgah di istana?”
kudengar seperti Binhad yang bertanya,
“Presiden tidak ada, dia sedang menyusun
pidato di rumahnya,
dia mau tampil di Asian Idol, ha ha ha ha!”
“Datang saja ke Kampus Lidah Buaya.
Barangkali masih bisa kau temui Tardji di sana,
malam belum terlalu tua, biasanya
ia sedang menghitung sajak dan sisa usia.”
Dan Jakarta menyala,
(Jakarta selalu menyala)
huruf-huruf raksasa memaksa mataku membaca
berbagai merek rokok, kondom dan pil stamina.
[Dan aku hanya Kavi Matasukma,
aku mencari kekasihku Shania Saphana.
Aku tahu dia tak ada di manapun di Jakarta,
aku datang, biar saja, aku hanya mencarinya.
Aku hanya ingin teriak bertanya, "Jakarta, di mana
kau sembunyikan kekasihku Shania?"]
AKU tak bertemu kubur-kubur pergi
berlayar membawa pelabuhan, Tuan Tardji!
Aku melihat Jakarta berjalan mengangkang
Aku melihat tangan-tangan menadah pada selangkang.
Sebelah tanganku masih berpegangan di tangga pesawat.
Kalah gesit dengan tangan dari kota-kota yang jauh,
tangan Surabaya, tangan Papua. Mungkin juga Yogya.
Tangan yang mengepal dan mengacung sambil berseru:
“Aku menantangmu Jakarta, lawanlah aku, hei Penyair Tua,”
kudengar seperti Saut Si Penyerang. Menyerang.
“Sampai tak ada hutan lagi. Tak ada kayu lagi,
di Jakarta yang suka berdusta. Ha ha ha ha!”
Si Penyair Tua tak sedang di sana. Ia sedang di Salihara
membangun blackbox pertama di Jakarta.
Saut, ia tidak menyiapkan makamnya.
Dan Jakarta terus menyala.
(Jakarta makin menyilau pada mata)
Tapi orang-orang sembunyi di ruang remang.
Sembunyi dari dusta sendiri.
Engkaukah itu? Lelaki tanggung yang bicara
kebenaran tentang Jakarta? Membaca
makalah di PDS H.B. Jassin, dengan ludah asin?
(Aih, di Reader’s Digest aku mengutip George Carlin)
Lalu memaki Sitok dan Nirwan,
menahbiskan Jimmi Multazam sebagai penyairmu,
sambil mengutip Tuan Rendra: Bersatulah
pelacur-pelacur kota Jakarta! Ha ha ha ha!
Engkaukah yang tak lagi berpura-pura bekerja di
Jurnal Perempuan? Tapi kenapa pula berpura-pura?
Begitu angkuhkah tubuhmu untuk meneteskan
keringat, setetes saja? Atau karena kau merasa
telah berdialog dengan arwah Umar Kayam?
[Ah, aku hanya Kavi Matasukma,
aku mencari kekasihku Shania Saphana.
Aku tahu dia tak ada di manapun di Jakarta,
tapi bolehkah kubayangkan kau pertemukan
kami di Stasiun Kota? Atau di dindingnya
kutuliskan saja, "Kavi Matasukma tidak dari
mana-mana, di manakah kau Shania Saphana?]
Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 10:22:00 AM

Bob Marley, karya Agus Suwage, Galeri Nadi. Mendampingi sepuluh sajak dari blog ini di Kompas Minggu 11 Mei 2008.
Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 8:47:00 AM
May 10, 2008
Sebuah Denah pada Sebuah Undangan Pernikahan
: teguh dan hening
Dari Pekalongan, melintas rel kereta
Lurus saja bila tak ingin ke terminal
Dari berseorangan akhirnya engkau berdua
Lurus. “Tapi jalan ini kan kian terjal..”
Kulihat tiga simpang, tiga lampu lalu lintas
Sebelum gedung di seberang rumah ibadah
Kukira semula itu bimbang, yang sempat melintas
Bukan, bukan, katamu, “lihat kami mulai langkah”
Dua arah jalan dari dan ke Kota Tegal
Keduanya tidak menunjuk mana mata utara
Dari dua keyakinan ke satu ingin yang tunggal
Keduanya tidak lagi hanya menyebut satu nama
Gedung itu ada di ruas jalan: Jalan Pemuda
Di mana kota itu, Pemalang nama tempatnya
Mendung menipis menepi, tak lagi mengabut dada
Di mana doa itu, “Di Sajakku kupanjatkan jua”
Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 8:45:00 AM
May 8, 2008
Engkau Flu, Mikael?
AKU dengar suara bersinmu:
A Teeeeeuuwwwwwwwwww!
Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 7:30:00 AM
May 7, 2008
Semakin Mikael Semakin Baik
1. Malam itu engkau lapar sekali setelah
terjaring jejaring 25 jam menyelancari
situs-situs puisi (bukan yang liris tentu saja),
engkau akan memilih…:
a. Bubur babi dan bir Heineken, ataukah
b. Roti Bakar Eddy + Coca-Cola tanpa gula.
2. Manakah yang bukan kalimat petikan dari
John F Kennedy?
a. Ketika politik kotor, peluru membersihkan.
b. Ketika penyair keracunan sajak liris, siapa
yang harus mengingatkan.
3. Siapa yang engkau pilih untuk engkau kencani:
a. Cinta Laura, lalu kau ajari bibir dan lidahnya
(dengan bibir dan lidahmu) bagaimana melafalkan
kata-kata dalam Bahasa Indonesia
b. Rebecca, lalu ia mengajarimu bernyanyi dengan
sesedikit mungkin membuka mulut dan menggerakkan tubuh.
4. Apa yang lebih baik…
a. Seorang cucu yang melupakan aroma batik gendongan
neneknya.
b. Atau seorang nenek yang hingga ke liang lahat
mengenang aroma pesing ompol cucunya.
5. Kau akan segera mengangguk pada permintaan yang mana?
a. Menggantikan Mice menjadi pasangan Benny di halaman
kartun Kompas Minggu.
b. Atau menggantikan Hasif Amini menjadi redaktur halaman
puisi di koran yang sama.
6. Kemampuan bahasamu ingin diuji dengan cara apa?
a. Menerjemahkan lagu Lir Ilir ke dalam berbagai bahasa dunia.
b. Menenerjemahkan sajak-sajak anak Buma ke dalam bahasa
Inggris, dan Jawa.