Chelsha’s Weblog

Mei 15, 2008

Ibu Bapak

Filed under: Tak Berkategori — chelsha @ 10:25 am
Ibu dan Rahim (Bapak)

Cerpen R. Valentina Silakan Simak!
Dimuat di Pikiran Rakyat Silakan Kunjungi Situsnya! 10/29/2005 Telah Disimak 355 kali

 

 

DI suatu senja, ibu berkata padaku, “Ibu tak punya rahim.”Terang saja pengakuan ibu benar-benar mengagetkan aku. Sebagai anak sulung ibu, jelas hal ini sedikit banyak membingungkan. Aku tak ingin membuat bingung tiga orang adikku yang masih kecil-kecil. Kasihan, pikirku. Lagi pula, bukankah konon anak sulung sebaiknya lebih memahami ketimbang anak kedua, ketiga, dan keempat. Adikku, Kaka, saat ini masih duduk di bangku kelas I SMP. Adikku berikutnya, si manis Pandu, duduk di bangku kelas IV SD, dan si kecil, Lalang, kini masih duduk di kelas I SD.

Sebagai perempuan yang baru memasuki usia kepala dua, kupikir wajar saja jika aku menduga, ketiga orang adik laki-lakiku akan sulit memahami jika tiba-tiba aku bercerita pada mereka bahwa Ibu tidak punya rahim. Ya, tentang ibu yang tidak punya rahim. Lantas bagaimana kami yang tak pernah minta dilahirkan bisa terlahir ke dunia ini?

**

KATA ibu, di perutnya tersimpan ketulusan seorang perempuan. Sempat aku berpikir apa ibu sedang kemasukan sesuatu hingga pikirannya semacam kesetrum atau kepala ibu terantuk suatu benda tajam, atau jangan-jangan….

Tapi rasanya tidak mungkin. Ibu bukan seperti ibu kebanyakan. Ibu seorang perempuan yang tenang dan bijaksana. ibuku yang berparas elok berhati cantik. Di mata Ibu yang teduh selalu terpancar kedamaian. Damai yang tak pernah bisa kulihat di mata banyak orang, apalagi di mata laki-laki. Dulu pernah aku berpikir, apa mata semacam ini hanya bisa dimiliki perempuan?

Hingga ketika adik laki-lakiku satu per satu tiba-tiba mengisi rumah kontrakan mungil kami, aku menemukan mata menyerupai mata ibu. Mungkin karena dia keturunan ibu, matanya pun harus mirip ibu. Kalau mataku, jelas, karena aku anak ibu dan aku perempuan, sepasang mataku nyaris persis seperti mata ibu.

**

JIKA ibu tak punya rahim, berarti kami anak siapa?

Pertanyaan ini benar-benar mengusikku. Dulu saat usiaku belasan tahun, pernah aku berpikir, betapa menderitanya terlahir sebagai seorang perempuan. Pak guru berkata, “Seorang perempuan harus bisa menjaga dirinya. Kehormatannya. Kesuciannya.” Bukan cuma pak guru, bibiku juga mengatakan hal serupa. Kata bibi, derajat seorang perempuan bergantung pada bagaimana dia menjaga kehormatannya.

Awalnya kata-kata mutiara macam itu kuterima saja mentah-mentah. Kupikir, kehormatan itu adalah amal kebaikan yang seorang perempuan perbuat dalam hidupnya. Dan kesucian itu adalah cinta yang tulus pada kehidupan dan sesama. Belakangan aku tahu bahwa aku keliru. Kebanyakan orang ternyata tak menghubung-hubungkan perkara kehormatan, derajat, kesucian, dengan kebaikan dan cinta yang tulus dari hati seorang perempuan. Kebanyakan orang ternyata mengaitkan perkara-perkara kemanusiaan macam itu menjadi persoalan selangkangan.

“Betapa anehnya, Bu,” ujarku pada ibu saat kami mendiskusikan perkara ini beberapa tahun lalu.

“Iya, sayang. Dunia tempat kita hidup memang dunia yang penuh keanehan.”

“Ibu tak bisa membayangkan apa yang dialami Ranti, teman sekolahku, saat dia mengandung anak karena diperkosa. Apakah perkosaan itu terjadi karena Ranti tak bisa menjaga kesuciannya? Kehormatannya? Apakah kehamilan Ranti karena derajatnya rendah?” aku menangis meraung-meraung. Ya, raungan seorang perempuan yang sedang beranjak menjadi perempuan dewasa. Raungan seorang perempuan yang tak bisa menerima kenyataan bahwa nyawa sahabat perempuannya akhirnya melayang di tangan dukun beranak dalam upaya pengguguran kandungan.

Aku tahu Ranti belum tahu hendak diapakan bayi dalam kandungannya. Dia belum memutuskan apa yang bisa diperbuatnya dengan kondisi tubuhnya yang berbadan dua. Mungkin saja Ranti akan melahirkan bayinya. Tapi pastilah ini aib di masyarakat tempat aku dan Ranti hidup. Orang akan terus bertanya, siapa bapak bayi Ranti. Dalam kebingungan itulah, bapaknya memaksa Ranti menggugurkan bayi dalam rahimnya.

“Betapa pedihnya melihat pandangan teman-teman dan guru-guru di sekolah pada Ranti, Bu…. Aku tak tahan. Mereka bukan berempati. Mereka melihat Ranti seperti onggokan daging busuk. Ranti tidak lagi suci. Ranti tidak lagi terhormat.”

Sejak saat itu, bagiku, kata-kata mutiara bukan lagi kata-kata mutiara. Entah siapa pembuat kata-kata itu. Kata-kata yang menghujam jantung perempuan.

“Perempuan sebaiknya membuat kata-kata mutiaranya sendiri. Sebab hanya perempuan yang tahu mana mutiara dan mana peluru yang mematikan,” kata Ibu.

Ibu dengan setia menemani raunganku. Ibu tahu, tak perlu mendiamkan hati perempuan yang terluka. Biarkan saja. Ibu hanya membelai-belai rambutku dengan mesra. Mesra sekali. Kutumpahkan tubuhku dalam pelukan ibu. Kurasakan tubuh ibu yang kian menua. Ya, tubuh perempuan ini tak lagi seperti dulu. Ia tengah menua. Tubuh ibu kini kurus berbalut kulit keriputnya. Tapi ibu tetap cantik… cantik sekali. Dan mata ibu… mata ibu tetap membawa damai.

**

DI suatu senja, ibu berkata padaku, “Ibu tak punya rahim. Bapakmu yang punya rahim.”

Terang saja pengakuan ibu benar-benar mengagetkan aku.

“Baiknya ibu bercerita tentang rahim yang tidak ibu punya. Ini akan sangat melegakan aku, Bu…,” rayuku pada ibu.

Bertahun-tahun ibu mengelak dari rayuanku. Ibu tak hanya membuatku bingung, tapi membuat aku menjadi sangat berhati-hati dengan laki-laki. Aku takut laki-laki punya rahim, seperti bapakku. Bapak yang telah mencampakkan ibu tanpa pesan. Bapak yang telah menghilang bak ditelan bumi.

Hingga akhirnya, suatu waktu yang dirasakan dan diputuskan oleh ibu, ibu bercerita panjang tak lebar, “Ibu menikah dengan bapak pada usia belasan tahun. Kata bapakmu, dia terpaksa menikah dengan ibu demi membahagiakan keluarganya. Bapakmu tak pernah mencintai ibu. Bapakmu mencintai seorang perempuan. Hanya seorang perempuan. Dia seorang pelacur. Kepada perempuan itulah bapakmu menyerahkan cinta dan tubuhnya.”

“Lalu…,” aku tak kuasa menahan sesak yang tiba-tiba mulai memenuhi dadaku. Hati perempuan mana yang tak terluka mengetahui suami yang dicintainya mencintai seorang perempuan lain dengan penuh.

“Ibu membiarkan bapak terus mencintai perempuan lacur itu?”

“Bagaimanakah kita hendak lari dari misteri cinta, sayang? Bapak tak pernah sedikitpun menyentuh ibu hingga ia meninggalkan ibu dengan empat orang anak dari rahim perempuan itu.”

“Perempuan lacur bapak?” kataku terbata-bata.

“Perempuan kekasih bapak.” Perempuan itu bilang, “Perempuan seperti aku tak pernah benar-benar memiliki rahim. Setiap aku hamil, orang akan bertanya siapa bapak bayi ini. Tak pernah sekalipun mereka puas bahwa aku adalah ibu bayi di rahimku, yang kurang lebih sembilan bulan kucinta-cinta dan kelak pada waktunya kupertaruhkan seluruh hidupku, membiarkan tubuh mungilnya merobek vaginaku. Berdarah-darah…. Tidak juga suamimu, yang terus mengaku mencintaiku, tapi tak pernah punya setitik pun keberanian untuk mengakui keberadaanku, mengawiniku. Tahukah kau hati seorang perempuan pelacur? Dia tetaplah berhati perempuan.”

“Lalu….?” Seribu jarum tiba-tiba seperti menusuk-nusuk kepalaku.

“Empat kali proses kelahiran jabang bayi dari rahimnya, ibu setia menemani perempuan itu. Segala sakit, derita, dan bahagia perempuan itu seperti mengalir lewat remasan tangan dan erangannya yang terus menggema di telinga ibu. Di tengah derita dan pedih yang memenuhi seluruh rongga hatinya, perempuan itu melahirkan dengan gagah berani. Tak seorang pun dapat membantah bahwa bayi yang dilahirkan perempuan itu adalah bayinya. Bayi-bayi mungil tak berdosa, yang terlahir di tengah hujan pertanyaan: siapa bapak bayi ini? Anak-anak yang mengemis cinta dalam rahim perempuan itu adalah buah cinta ibu. Anak-anak yang terlahir dari rahim perempuan itu adalah anak-anak ibu.”

Bertahun-tahun aku mencoba mengendapkan cerita ibu. Bertahun-tahun, rasanya berabad-abad, aku belajar memahami apa yang tersembunyi di mata perempuan yang mengaku tak punya rahim itu. Benarkah ibu tak punya rahim? Benarkah aku terlahir dari rahim seorang pelacur bapak? Lantas…. Ah, terlalu banyak pertanyaan yang tiba-tiba menggema di kepalaku.*** 

ADA lagi

Filed under: puter otak — chelsha @ 10:13 am

Sebab CINTA memang harus diupayakan

Suatu kali seorang teman bertanya kepada saya:

“Lady, ada 2 pilihan untukmu.

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Menikah dengan orang yang kau cintai

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>mencintai orang yang kau nikahi

Mana yang kau pilih?”

Saat itu spontan saya memilih yang kedua: mencintai orang yang saya nikahi (menikahi saya).

“Kenapa?”

Hhm… iya ya, kenapa?

 

Sebab jodoh adalah hal yang pasti, meski masih menjadi misteri bagi orang-orang yang belum menemukannya. Sedangkan mencintai adalah hal yang berbeda. Mencintai seseorang saat belum ada hak atasnya, bagaikan menggenggam bara. Jika Allah berkenan menjadikannya pendamping seumur hidup, maka bara itu akan menjelma menjadi energi untuk meciptakan kebersamaan yang indah. Tetapi, jika Allah tidak berkenan mempersatukan, bara itu akan membakar, dan bisa jadi menghanguskan diri sendiri.

 

Lebih dari itu, pilihan kedua rasanya lebih aman dari berbagai penyakit hati, yang bisa jadi mengotori niat suci menikah karena Allah.

 

Itu jawaban saya saat itu. Tetapi, beberapa jenak setelah itu, saya termenung, mencoba berfikir lebih dalam dan menyelami jauh ke dalam lubuk hati. Lalu, saya pun meneruskan pertanyaan itu ke temen saya yang lain.

 

About Alloh

Filed under: Tak Berkategori — chelsha @ 10:08 am

Cinta Alloh

. Terjaga dari Dunia
Diantara tanda cinta Allah pada hamba-Nya ialah Dia menjaganya dari dunia. Dia tidak membiarkan dunia memakan dan menguasainya. Dia tidak akan membiarkan kita selam 24 jam hanya melulu melihat dunia.

Jika kita dapatkan selama 24 jam mengingat Allah, maka itu tanda-tanda cinta Allah.

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menjaga hamba-Nya yang beriman –dan Dia mencintai– seperti kalian menjaga makanan dan minuman orang sakit (di antara) kalian, karena kalian takut pada (kematian) nya”. (HR. Al-Hakim, Ibnu Abi Ashim dan Al-Baihaqi)

Nabi SAW bersabda, “Jika kamu melihat Allah memberikan dunia pada hamba-Nya karena maksiat yang ia sukai, maka itu hanya penguluran waktu belaka.”

Lalu Rasul SAW membaca ayat, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

2. Keshalihan
Diantara cinta Allah adalah Dia menjadikan hamba-Nya hamba yang shalih. Jika kita dapatkan diri kita menuju pada keshalihan, meski dititik awal keshalihan, tetapi kita setiap hari selangkah lebih maju menuju keshalihan itu. Maka tiu adalah tanda cinta Allah kepada kita.

Saudariku yang enggan memakai jilbab, tetapi mereka mulai menuju ke arah keshalihan, maka ia sedang berjalan di lorong cinta Allah. Alasannya hadits ini:
Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci. Tetapi Dia tidak memberikan (kesadaran ber) agama, kecuali kepada yang Dia cintai. Maka barangsiapa diberi (kesadaran ber) agama oleh Allah, berarti ia dicintai oleh-Nya.” (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Jika kita dapatkan diri kita mengarah ke arah keshalihan, maka itu tanda cinta Allah kepada kita.

3. Memahami Agama
Diantara cinta Allah adalah memahami agama.
Ini adalah persoalan bertahap seperti keshalihan. Artinya, kita akan mendapatkannya sedikit demi sedikit. Pertama kali kita mungkin tidak mengenal tajwid, lalu kita memulai dengan mempelajari tajwid, lalu menghapal satu juz dari Al-Qur’an. Ini adalah tanda cinta Allah.

4. Kelembutan

Diantara cinta Allah adalah kelembutan. Dia akan menjadikan hamba-Nya sosok yang tenang. Pribadi yang emosional dan mudah bergejolak hanya karena hal-hal yang sepele akan merasakan bahwa sifat kelembutan ini begitu jauh darinya. Nabi SAW bersabda,
Jika Allah menginginkan kebaikan penghuni satu rumah, maka Dia masukkan kelembutan.” (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dan At-Tirmidzi)

5. Mudah Melakukan Ketaatan
Diantara tanda cinta Allah pada hamba-Nya, Dia akan memudahkan hamba-Nya melakukan ketaatan. Dia akan membuka baginya jalan-jalan ketaatan.

6. Sulit Melakukan Maksiat
Diantara tanda cinta Allah pada hamba-Nya ialah kesulitan melakukan maksiat. Ia tidak akan bisa melakukan maksiat, dan jika ia terbiasa melakukan maksiat, maka ia akan merasakan itu sangatlah sulit sehingga ia tidak bisa melakukan itu. Itulah tanda cinta Allah.

7. Husnul Khatimah (Akhir yang Baik)
Diantara tanda cinta Allah, Dia menutup umurnya dengan amal shalih. Ia mati dalam keadaan melakukan amal shalih. Ini sangat penting, sebagian manusia menghabiskan umurnya dalam keadaan bermaksiat pada Allah.

Abu Bakar ra berkata, “Jika satu kakiku di dalam surga, dan kaki yang lain diluar surga, maka aku belum aman.”

Maka jika kita melakukan maksiat, takutlah pada kematian, dan hati-hatilah kalau kita mati dalam keadaan melakukan maksiat.

Diantara tanda cinta Allah, Dia akan mewafatkan hamba-Nya dalam keadaan melakukan amal shalih.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memaniskannya.” Sahabat bertanya, “[/i]Apa itu memaniskannya ya Rasulullah[/i]?” Ia berkata, “Dia akan memberikan ia petunjuk untuk melakukan kebaikan saat menjelang ajalnya, sehingga tetangganya akan meridhai, –atau ia berkata—orang sekelilingnya.” (HR. Al-Hakim)

LAGIE LAGIE

Filed under: artikel — chelsha @ 9:53 am

Artikel : “Sekolah, Pendidik, dan Bangsa (yang) Up to Date”

 

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket


(foto : beritajakarta.com)



Sekolah. Menurutku sekolah itu selain tempat mengajarkan kita dasar keilmuan seperti tulis-menulis, membaca dan mendengarkan, sekolah juga harus mempersiapkan kita agar menjadi orang yang mampu menyerap, mengolah, mempraktikkan dan mengambil ilmu dari masyarakat, termasuk ekonomi dan sosial. Semisal, dulu di sekolah tidak ada Internet, nah kita harus belajar sendiri untuk bisa mengenal, menggunakan dan memanfaatkan Internet setidaknya untuk diri sendiri dan syukur-syukur dapat dimanfaatkan untuk orang banyak. Jadi Istilahnya, sekolah yang baik bagi saya adalah sekolah yang bisa membentuk siswanya kelak setelah lulus bisa berkembang sendiri di lingkungan dengan mempergunakan otak mereka sendiri yang telah diisi tetek bengek keilmuan yang dibutuhkan di masyarakat dalam perkembangan zamannya. Karena ilmu pengetahuan, masyarakat dan kehidupan, ekonomi, sosial, pola pikir generasi terdidik dan segala macamnya (atau kita sebut saja “Perkembangan Zaman”) terus berkembang dan maju. Artinya sekolah juga harus terus bisa mengikuti perkembangannya dengan perubahan-perubahan strategi, langkah-langkah yang up to date juga agar bisa memenuhi tuntutan “Perubahan Zaman” sehingga anak didiknya dapat berhasil untuk hidup mapan di dunia masyarakat baik secara nasional maupun kelak secara global.

Nah, sekolah yang menurut saya semestinya up to date, yakni sekolah yang mengerti tuntutan zaman, kebutuhan bangsa, masyarakat dan dunia. Sekolah yang tidak up to date, tidak mengikuti “Perubahan Zaman” atau dalam artian hanya mengajarkan keilmuan dasar seperti menulis, membaca dan mendengar saja yang nantinya akan menciptakan masalah besar buat bangsa ini akibat kurang tanggap terhadap perkembangan kebutuhan masyarakat baik secara ekonomi dan sosial. Dan menurut saya, salah satu masalah yang telah timbul dari sekolah yang tidak up to date ini adalah jumlah pengangguran yang meningkat di negeri ini. Jumlahnya mencapai 10,55 juta jiwa, (sumber: BPS dan Departemen Dalam Negeri Indonesia, 16/05/2007), itu dikarenakan dunia pendidikan kita tidak menlihat sebenarnya apa yang dibutuhkan bangsa; dunia dan masyarakat kita ini.

Berdasarkan pengalaman saya, di sekolah (mungkin termasuk orang tua kita juga) pada umumnya mengarahkan kita untuk bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil, polisi, dokter, bekerja di pemerintahan yang notabene semua itu volume penyerapan tenaga kerjanya sangat kecil. Dan ini secara tidak langsung artinya hanya mengajarkan bahwa orang berhasil apa bila menjadi seperti profesi seperti yang didoktrinkan tersebut dan yang ada, para siswa mempersiapkan diri sesuai kapasitas yang didoktrin tersebut. Padahal kenyataanya adalah tantangan yang dihadapi adalah sangat jauh lebih besar dari itu, mulai dari besarnya perbandingan antara jumlah pelamar dan jumlah yang diterima sehingga kualifikasi yang diminta adalah yang terbaik dan belum lagi menghadapi persaingan kualifikasi dari orang luar negeri, dan yang ada para lulusan ini menjadi tidak memenuhi tuntutan pasar dan kebutuhan masyarakat ataupun tidak terpakai karena memang ruang untuk kualifikasi mereka sudah terisi. Penuh!. Belum lagi munculnya diskriminasi pekerjaan. Bahwa pekerjaan A lebih tinggi derajatnya daripada pekerjaan B, atau pekerjaan C lebih bergengsi dibanding pekerjaan D, dan seterusnya. Kenapa akhirnya timbul banyak pengangguran adalah karena kita sudah banyak didokrin untuk selalu mencita-citakan hanya menjadi pekerja, bukannya mengajarkan kita untuk mencipta, berkreasi, dan menjadi kreatif secara mandiri seperti berwiraswasta baik dalam skala kecil, menengah dan besar.

Menurut buku yang pernah saya baca, bahwa pada awal permulaan Revolusi Industri di Prancis, Inggris, kawasan Eropa dan lalu menyebar ke seluruh pelosok bumi, dunia mulai membutuhkan tenaga kerja bersifat administratif, buruh, sales, marketing, akuntan dan manajer. Tetapi pada abad ini, para pekerja telah menempati lowongan tersebut dan mereka yang sudah pensiun berjumlah lebih sedikit dan tidak sebanding dengan lulusan sekolahan yang siap bekerja di posisi tersebut. Dan sayangnya sekolah kita mempersiapkan dan mengarahkan kita menuju ke dunia yang peluangnya sedikit serta kita kekurangan informasi tentang bagaimana sebenarnya ‘dunia’ itu yang lambat laun harus dihadapi untuk bertahan hidup agar tidak menjadi pengangguran. Dengan adanya lulusan yang menjadi pengangguran berarti sekolah tersebut telah gagal mendidik murid-muridnya menjadi orang yang bisa berkembang sendiri terhadap perubahan lingkungan.

Tak bermaksud merendahkan siapapun atau memberi penilaian buruk dengan menggunakan logika saya ini, tetapi inilah gambaran yang saya tangkap dari hasil pendidikan bangsa ini dalam menghadapi dunia global. Menurut saya, lulusan universitas yang memilki kecerdasan intelektual yang (semestinya) lebih daripada pekerja TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang notabene hanya lulusan SMA, SMP bahkan SD, tapi yang ada malah mereka lebih memiliki pendapatan yang jauh lebih besar dibanding kebanyakan para lulusan intelektual kita ini. Dan parahnya, lulusan sarjana kita tidak dipakai di perusahaan asing atau setidaknya berada dibawah lulusan sekolah/universitas luar negeri pada perusahaan asing dan juga perusahaan dalam negeri. Artinya dimana sebenarnya posisi para intelektual sarjana itu sendiri dalam dunia global ? Apakah pendidikan kita sendiri sudah mempersiapkan kita menjadi pemain dalam kiprah dunia global dan bukan hanya sebagai pekerja saja dan sendi-sendi lainnya dalam era pesar bebas ini? Jikalau belum, berarti bangsa ini cenderung akan menjadi bangsa yang konsumtif saja dan bukan bangsa yang produktif. Kalau begini terus, bangsa kita hanya akan menjadi negara pembeli ditengah era globalisasi dan tetap menjadi negara yang miskin atau setidaknya negara yang kesulitan berkembang ! Sudahkah sistem pendidikan kita tersadarkan dengan kenyataan yang akan kita hadapi beberapa tahun kedepan ini ?

Sekolah yang pernah saya jalani sewaktu SMA adalah sekolah yang masih terlalu umum buat saya, dalam artian sekolah yang kurang dan malah mungkin tidak pernah memberi informasi tentang dunia kerja. Sebagai contoh, sekolah yang mengaku mengutamakan bahasa Inggris sebagai life skill ini serta usahanya untuk mencerdaskan anak-anak didiknya dalam berbahasa Inggris dalam kenyataannya ternyata biasa-biasa aja atau mungkin kalau boleh jujur, kurang sama sekali ( but I still love my school lho…!) Lain lagi halnya di tempat kuliah saya, (sebagai catatan, saya memilih institusi ini karena saya melihat peluang kerja Internationalnya terbuka lebar dimana setiap tahun jumlah kapal-kapal terus bertambah mengikuti perkembangan ekonomi dunia dan orang yang mau menjadi pelaut terus berkurang. Siklus pelaut yang ingin pensiun dini sangat banyak dengan alasan ingin bekerja di darat terutama di benua Eropa dan Asia ataupun telah mempunyai dana yang cukup untuk mulai berbisnis (Insya Allah saya akan memulai lebih dini untuk membangun bisnis). Sayangnya, di institusi ini dimana saya dipersiapkan menjadi nakhoda kapal yakni dengan cara melatih fisik 70% dan knowledge hanya 30%. Belum lagi kondisi yang tidak kondusif di asrama yang mengakibatkan kemungkinan 30% knowledge tersebut kian berkurang. Padahal seharusnya poin utama yang harus disiapkan untuk kalangan pemimpin seperti nakhoda di atas kapal yang notabene bekerja dalam lingkungan Internasional adalah kecerdasan intelektual seperti manajemen kepemimpinan, komunikasi, dan kebutuhan penguasaan keterampilan bernavigasi itu sendiri. Tapi di institusi ini seperti agak melenceng dari apa yang dituntut oleh pasar dunia, bahkan kalau boleh dibahasakan, saya menyebutnya kurang tepat sasaran. Bersyukurlah bagi orang yang pandai melihat dan membaca situasi seperti ini karena dapat mempersiapkan dirinya sendiri dengan berbagai life skills yang sekiranya diperlukan dalam persaingan pasar bebas dan tidak terlena serta berleha-leha dengan target kampus yang kedodoran tersebut. Pihak pembuat kurikulum kampus yang kurang tanggap dan tidak melihat perubahan terhadap tuntutan dunia kerja bagi pelaut menyulitkan lulusannya untuk bersaing di era globalisasi ini.

Yang terjadi sekarang pada sistem pendidikan kita adalah orang yang berada di dalamnya tidak berusaha untuk meng-update kebutuhan “Perkembangan Zaman” sehingga telah menyia-nyiakan kesempatan untuk membentuk generasi yang up to date pula, yang mampu memenuhi perkembangan zaman, yang bisa survive ditengah perubahan zaman dan tidak menjadi gagal dengan berputus asa seperti menjadi pengangguran yang terfokus hanya menjadi pekerja. Orang-orang yang ada dalam sistem pendidikan bangsa ini harus up to date dan terus mengikuti perkembangan zaman, tidak cuek serta hanya berpatokan pada kurikulum yang nyatanya tidak berhasil menurunkan, malah menambah jumlah pengagguran setiap tahunnya. Ya., seorang pendidik sebaiknya selalu tanggap akan perkembangan zaman!. Kurikulum dan pendidik yang up to date seharusnya menjadi ciri sekolah yang bisa diandalkan sehingga bisa membawa generasi muda bangsa ini menjadi generasi yang kreatif, berkualifikasi di zamannya, mampu menghadapi perubahan, dan tidak bersifat konsumtif dengan hanya menjadi pekerja saja. Sekolah adalah tempat pembentukan awal suatu bangsa. Buruknya pendidikan merupakan tanda-tanda awal masa kehancuran dan keterbelakangan bangsa diseluruh aspek, terutama yang paling menonjol pada dunia ekonomi yang juga merupakan sebagai gambaran suatu kondisi umum suatu bangsa. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang terindah dan ternyaman serta menyenangkan bagi generasi muda untuk mulai membangun dirinya dan bangsanya. Sekolah seharsunya dikendalikan dan dijalankan oleh orang-orang yang selalu up to date sehingga dapat membentuk generasi yang up to date juga dan menjadi generasi yang bisa meng-up to date-kan dirinya terhadap perubahan zaman sehingga bisa survive serta membangun bangsanya secara optimal. Sekolah adalah pondasi awal suatu manusia, masyarakat, bangsa dan dunia. Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang memilki sistem pendidikan dan pelaku pendidikan yang selalu up to date terhadap perkembangan zaman. Marilah kita menjadi bangsa yang up to date!

 

 

 

The POEMS

Filed under: Tak Berkategori — Tag:, — chelsha @ 9:49 am

[Ruang Renung # 234] Mawar, Melati dan Puring

“Buat apa menulis atau membaca puisi? Puisi tak akan membuat kita kenyang…” Pernahkah dilabrak dengan pernyataan seperti itu?

Bahkan, petani pun menanam kunyit, jahe, daun katuk, dan ubi kayu di sisa sedikit lahan di pematang juga di dekat pondoknya. Tanaman-tanaman itu tidak akan pernah membuat kenyang. Si petani kenyang ketika ia makan nasi yang kelak dipanen dari padi yang ditanam di sawahnya. Kunyit, jahe, daun katuk, dan pucuk ubi kayu menjadi lauk dan lalap pendamping ketika petani mendapatkan kenyang dari si nasi.

Apakah petani dilarang menanam yang selain padi itu karena tidak akan bisa mengenyangkannya?

Bahkan si petani pun kadang menanam mawar, melati, puring di halaman pondoknya itu. Mawar, melati yang ia petik bunganya, ia dapatkan wanginya dan ia taburkan di kasurnya.

Apakah petani tak boleh menanam mawar, melati dan puring?

 

 

Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 9:14:00 AM

 

 


Saya menulis 11 Gurindam. Kompas memuat 9. Inilah dua Gurindam yang tak termuat itu.

10. Gurindam Pasal yang Kesepuluh:
Menuju Sajak, Jalan Sajak

Bila kau berkata, “aku sedang menuju sajak!”
Yakinkah kau? Kau sedang menempuh jalan Sajak?

Bila kau berkata, “aku telah sampai pada sajak!”
Tahukah kau? Selalu ada yang lebih Sajak dari sajak?

Bila kau berkata, “aku telah menemu yang paling sajak!”
Sadarkah kau? Saat itu kau ditinggalkan banyak sajak?

Bila kau berkata, “aku bersajak, ah, percuma saja!”
Padahal sajak adalah pemakna pada yang sia-sia.

Bila kau berkata, “aku tak menemu diri dalam sajakku”
Sajak membawa kau mengenali dirimu dalam dirimu.

11. Gurindam Pasal yang Kesebelas:
Ladang Sajak, Ladang Mawar

Tanah hitam di ladang sajak yang mawar,
menyimpan cinta, mendekap tubuh akar.

Embun mandi di ladang sajak yang mawar,
memanggil, lalu datang pelangi selingkar.

Sinar matahari di ladang sajak yang mawar,
mengecup pipi pagi, rindu semalam terbayar.

Semak gulma di ladang sajak yang mawar,
tanggal gugur duri, tinggal sesulur yang sabar.

Angin datang lalu, di ladang sajak yang mawar,
memetik wangi-wangi, menebar benih kabar.

Diam batu di ladang sajak yang mawar,
menahan-nahan takjub meredam debar.

Siul-siul serunai di ladang sajak yang mawar,
ketika sepi pun ia, alangkah merdu kau dengar.

Burung hinggap di ranting sajak ladang mawar,
bermimpi rajut sarang di mekar kelopak mekar.

Akulah Petani Puisi, di ladang yang mawar,
memetik sajak-sajak di tangkai cahaya fajar.

 

 

Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 9:02:00 AM

 

May 12, 2008

  Kebohongan tentang Jakarta, Mikael!

         Dalam diri orang sinis adalah seorang
         idealis yang kecewa — George Carlin

AKU tak tahu seperti apa
         rasanya dikangkangi New York, Tuan Rendra!

Aku melihat pedih di selangkang Jakarta
Aku melihat seribu cukong berak di atas kepalanya.

Kakiku sebelah tertinggal di Soekarno-Hatta,
aku lari pincang dan tak sampai juga ke Istana Negara
Maskapai Lion Air itu tadi
         bikin papan jadwal mahal itu tidak berguna.

“Buat apa singgah di istana?”
         kudengar seperti Binhad yang bertanya,
         “Presiden tidak ada, dia sedang menyusun
         pidato di rumahnya,
         dia mau tampil di Asian Idol, ha ha ha ha!”

“Datang saja ke Kampus Lidah Buaya.
         Barangkali masih bisa kau temui Tardji di sana,
         malam belum terlalu tua, biasanya
         ia sedang menghitung sajak dan sisa usia.”

Dan Jakarta menyala,
(Jakarta selalu menyala)
         huruf-huruf raksasa memaksa mataku membaca
         berbagai merek rokok, kondom dan pil stamina.

[Dan aku hanya Kavi Matasukma,
aku mencari kekasihku Shania Saphana.
Aku tahu dia tak ada di manapun di Jakarta,
aku datang, biar saja, aku hanya mencarinya.
Aku hanya ingin teriak bertanya, "Jakarta, di mana
kau sembunyikan kekasihku Shania?"]

AKU tak bertemu kubur-kubur pergi
         berlayar membawa pelabuhan, Tuan Tardji!

Aku melihat Jakarta berjalan mengangkang
Aku melihat tangan-tangan menadah pada selangkang.

Sebelah tanganku masih berpegangan di tangga pesawat.
Kalah gesit dengan tangan dari kota-kota yang jauh,
tangan Surabaya, tangan Papua. Mungkin juga Yogya.

Tangan yang mengepal dan mengacung sambil berseru:
“Aku menantangmu Jakarta, lawanlah aku, hei Penyair Tua,”
kudengar seperti Saut Si Penyerang. Menyerang.
“Sampai tak ada hutan lagi. Tak ada kayu lagi,
di Jakarta yang suka berdusta. Ha ha ha ha!”

Si Penyair Tua tak sedang di sana. Ia sedang di Salihara
         membangun blackbox pertama di Jakarta.
         Saut, ia tidak menyiapkan makamnya.

Dan Jakarta terus menyala.
(Jakarta makin menyilau pada mata)
         Tapi orang-orang sembunyi di ruang remang.
         Sembunyi dari dusta sendiri.

Engkaukah itu? Lelaki tanggung yang bicara
         kebenaran tentang Jakarta? Membaca
         makalah di PDS H.B. Jassin, dengan ludah asin?
         (Aih, di Reader’s Digest aku mengutip George Carlin)
         Lalu memaki Sitok dan Nirwan,
         menahbiskan Jimmi Multazam sebagai penyairmu,
         sambil mengutip Tuan Rendra: Bersatulah
         pelacur-pelacur kota Jakarta! Ha ha ha ha!

Engkaukah yang tak lagi berpura-pura bekerja di
         Jurnal Perempuan? Tapi kenapa pula berpura-pura?
         Begitu angkuhkah tubuhmu untuk meneteskan
         keringat, setetes saja? Atau karena kau merasa
         telah berdialog dengan arwah Umar Kayam?

[Ah, aku hanya Kavi Matasukma,
aku mencari kekasihku Shania Saphana.
Aku tahu dia tak ada di manapun di Jakarta,
tapi bolehkah kubayangkan kau pertemukan
kami di Stasiun Kota? Atau di dindingnya
kutuliskan saja, "Kavi Matasukma tidak dari
mana-mana, di manakah kau Shania Saphana?]

 

 

Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 10:22:00 AM

 

 

 

Bob Marley, karya Agus Suwage, Galeri Nadi. Mendampingi sepuluh sajak dari blog ini di Kompas Minggu 11 Mei 2008.

 

 

Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 8:47:00 AM

 

May 10, 2008

  Sebuah Denah pada Sebuah Undangan Pernikahan

           : teguh dan hening

Dari Pekalongan, melintas rel kereta
Lurus saja bila tak ingin ke terminal
Dari berseorangan akhirnya engkau berdua
Lurus. “Tapi jalan ini kan kian terjal..”

Kulihat tiga simpang, tiga lampu lalu lintas
Sebelum gedung di seberang rumah ibadah
Kukira semula itu bimbang, yang sempat melintas
Bukan, bukan, katamu, “lihat kami mulai langkah”

Dua arah jalan dari dan ke Kota Tegal
Keduanya tidak menunjuk mana mata utara
Dari dua keyakinan ke satu ingin yang tunggal
Keduanya tidak lagi hanya menyebut satu nama

Gedung itu ada di ruas jalan: Jalan Pemuda
Di mana kota itu, Pemalang nama tempatnya
Mendung menipis menepi, tak lagi mengabut dada
Di mana doa itu, “Di Sajakku kupanjatkan jua”

 

 

Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 8:45:00 AM

 

May 8, 2008

  Engkau Flu, Mikael?


AKU dengar suara bersinmu:
A Teeeeeuuwwwwwwwwww!

 

 

Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 7:30:00 AM

 

May 7, 2008

  Semakin Mikael Semakin Baik

1. Malam itu engkau lapar sekali setelah
    terjaring jejaring 25 jam menyelancari
    situs-situs puisi (bukan yang liris tentu saja),
    engkau akan memilih…:
    a. Bubur babi dan bir Heineken, ataukah
    b. Roti Bakar Eddy + Coca-Cola tanpa gula.

2. Manakah yang bukan kalimat petikan dari
    John F Kennedy?
    a. Ketika politik kotor, peluru membersihkan.
    b. Ketika penyair keracunan sajak liris, siapa
    yang harus mengingatkan.

3. Siapa yang engkau pilih untuk engkau kencani:
    a. Cinta Laura, lalu kau ajari bibir dan lidahnya
    (dengan bibir dan lidahmu) bagaimana melafalkan
    kata-kata dalam Bahasa Indonesia
    b. Rebecca, lalu ia mengajarimu bernyanyi dengan
    sesedikit mungkin membuka mulut dan menggerakkan tubuh.

4. Apa yang lebih baik…
    a. Seorang cucu yang melupakan aroma batik gendongan
    neneknya.
    b. Atau seorang nenek yang hingga ke liang lahat
    mengenang aroma pesing ompol cucunya.

5. Kau akan segera mengangguk pada permintaan yang mana?
    a. Menggantikan Mice menjadi pasangan Benny di halaman
    kartun Kompas Minggu.
    b. Atau menggantikan Hasif Amini menjadi redaktur halaman
    puisi di koran yang sama.

6. Kemampuan bahasamu ingin diuji dengan cara apa?
    a. Menerjemahkan lagu Lir Ilir ke dalam berbagai bahasa dunia.
    b. Menenerjemahkan sajak-sajak anak Buma ke dalam bahasa
    Inggris, dan Jawa.

 

 

Boeat Yang Deg-deg an Nunggu Keluluzan

Filed under: Tak Berkategori — Tag:, — chelsha @ 9:46 am

Artikel:
Lulus UN, Lulus Penjajahan

Judul: Lulus UN, Lulus Penjajahan
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Reza Taofik
Saya Mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta
Topik: Ujian Nasional
Tanggal: 7 Juli 2007

Lulus UN, Lulus dari Penjajahan

Merdeka..!!! begitulah buah kata ekspresi kebebasan jiwa manusia ketika terlepas dari penjara ketertekanan. Kata ini jugalah yang menjadi semangat para pejuang terdahulu kita dalam merobek belenggu penjajahan dari tangan penjajah. Dan kini semangat kata ini kembali terkipas di jiwa putra-putri bangsa yang berhasil lulus Ujian Nasional yang juga berarti lulus dari sekolah.

Teriakan kemerdekaan tanda kelulusan siswa ini seakan menjadi satu suara dengan teriakan para pejuang terdahulu kita dalam memerdekakan negeri ini. Lulus dari UN bisa diartikan lulus dari belenggu penjajahan siswa yang bernama sekolah. Macam bentuk ‘penjajahan sekolah’ dari mulai tugas, tes, buku-buku mahal, LKS wajib, ocehan guru klasik model otorikrasi, hingga ke tekanan-tekanan lainnya menjadikan siswa sebagai kaum yang terjajah. Ibarat cerita sejarah, sekolah ini adalah si penjajahnya, siswa adalah kaum yang terjajah, dan lembar hasil UN adalah naskah kedaulatannya. Maksudnya, siswa akan terbebas dari penjajahan sekolah, jika naskah hasil UN-nya memenuhi syarat kelulusan, dan sebaliknya jika naskah hasil UN-nya belum memenuhi syarat kelulusan, maka penjajahan akan masih selalu mengintainya.

Ekspresi rasa kepuasan siswa terbebas dari belenggu penjajahan ini bisa kita lihat dari fenomena yang terjadi di panggung pendidikan negeri ini pasca hasil UN diumumkan. Aksi corat-coret baju dan tembok-tembok umum, konvoi yang bikin macet, mabuk-mabukan bahkan sampai ke pelecehan seksual merefleksikan ungkapan rasa puas siswa-siswi ‘abg’ di masa labilnya ini. Cerita tentang ini dapat kita temui di hampir seluruh pelosok negeri ini, diantaranya cerita siswa SLTA kota Tangerang, Banten yang merayakan kelulusan dengan corat-coret di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan II, dan sebagian yang lain berkonvoi sehingga memacetkan arus lalu- lintas. Cerita lainnya di Ternate, Maluku Utara, ratusan siswa SMA disana malah terjaring operasi aparat setelah terbukti mengkonsumsi minuman keras (miras) dan mabuk-mabukan merayakan kelulusannya. Masih banyak cerita-cerita over ekspresi lainnya yang dipertontonkan siswa-siswi negeri ini yang cukup paradoks dengan cerminan pemuda bangsa yang katanya berbudi luhur.

Ada yang puas, tentu ada juga yang kecewa. Rasa kecewa ini berlaku pada siswa-siswi yang dipastikan gagal dalam UN. Seakan dunia telah berakhir, rasa kecewa mereka berimbas pada aksi menutut keadilan akan kejelasan masa depan hidupnya. Tak hanya lewat demo, sikap anarkis pun menjadi pilihannya, seperti apa yang terjadi di SMA V Semarang, siswa ribut dengan wartawan peliput berita, aksi saling dorong-mendorong hingga aksi pelemparan botol pun menjadi mainannya.

Fenomema rasa puas dan kecewa atas hasil UN ini membuka mata kita bahwa sistem penilaian pendidikan di tanah air ini masih bermuara pada esensi sebuah nilai (angka). Sekolah yang seharusnya menjadi tempat bagi siswa untuk menggali ilmu dan potensinya, malah menjadi tempat pembudakan siswa terhadap angka-angka sebuah nilai. Orientasi belajar siswa selama 3 tahun lamanya hanya bermuara pada tataran sebuah nilai, proses belajar siswa selama 3 tahun lamanya hanya ditentukan oleh tiga hari Ujian Nasional. Penghambaan akan sebuah nilai ini menjebak siswa pada kehampaan akan sebuah arti potensi.

Kisah Baru, Kebusukan Baru

Ada kisah baru dalam pelaksanaan UN 2007 kali ini. Yang pertama adalah penyerahan wewenang dari pusat ke tingkat satuan pendidikan mengenai siapa yang berhak mengumumkan hasil kelulusan. Mengacu pada PP No.19 2005 pasal 72 dan Petunjuk Operasional Standar (POS) pengumuman kelulusan di tahun ini tidak lagi diumumkan secara resmi oleh pemerintah tetapi diserahkan ke sekolah masing-masing atas ketentuan rapat dewan guru setempat. Aturan ini berlaku dengan maksud untuk mengubah persepsi masyarakat yang menganggap kelulusan siswa ini ‘tok’ ditentukan oleh hasil kelulusan UN. Kelulusan menurut PP no. 19 ini ditentukan oleh pihak sekolah, dengan komponen penilaiannya terdiri dari penilaian guru, hasil ujian sekolah, dan hasil UN. Aroma busuk tercium dari aturan baru ini. Langkah ini terkesan sebagai upaya membebaskan pemerintah dari aib-aibnya selama ini, pengalaman tahun-tahun sebelumnya menjadi bahan pertimbangan di tahun 2007 ini agar pemerintah tidak lagi tersudutkan menjadi terdakwa dalam permasalahan UN ini, sehingga pemerintah melimpah-aibkannya ke sekolah.

Cerita yang kedua berasal dari komunitas air mata guru di kota Medan. Aksi buka mulut mereka menguak kebusukan pelaksanaan UN di kota Medan telah menuai benih ancaman dan intimidasi bagi kelangsungan hidupnya. Dikabarkan para guru ini diancam akan dibunuh oleh siswa beserta orang tua siswanya itu sendiri, selain itu pemecatan menjadi ancaman lainnya yang siap diterima para guru ini. Ancaman demi ancaman ini pada akhirnya memaksa komunitas air mata guru ini terbang ke Jakarta meminta perlindungan dan pengusutannya secara tuntas ke Komnas HAM.

Cerita lainnya yang cukup heboh adalah terjadi di kota Padang, tepatnya di SMK Dhuafa Nusantara. 83 siswa disana memboikot pelaksanaan UN dengan ketidak-ikutsertaannya di hari ke-2 dan ke-3 UN. Hal ini terjadi, karena tercibir berita adanya kasus pembocoran jawaban oleh guru kepada siswa saat ujian berlangsung. Selain itu mereka juga menolak tawaran paket C dari pemerintah dengan alasan ijazah dari hasil ujian paket C ini dianggap tidak layak dan merugikan siswa. Mereka lebih memilih tetap mengikuti ujian nasional di tahun depan.

Masih begitu banyaknya efek-efek negatif yang muncul dari pelaksanan UN ini selayaknya menjadi evaluasi besar bagi pemerintah negeri ini. Pelaksanaan UN ini terbukti kurang efektif dalam mencetak generasi bangsa yang berkualitas, yang terjadi sekarang malah mencetak generasi bangsa yang penuh dengan kemunafikan. Selain itu, UN juga telah menggiring siswa menjadi budaknya nilai-nilai (angka) yang terstandarisasi pusat.

Ujian Komprehensif

Ujian Nasional, Ujian Akhir Sekolah, ujian tengah semester, ulangan harian dan ujian-ujian ‘kertas’ lainnya adalah termasuk kedalam bentuk evaluasi secara tertulis. Bentuk tes tertulis ini menjadi pilihan yang dinilai efektif dan efisien dalam sistem penilaian pendidikan di Indonesia. Pertanyaannya, mengapa harus diakhiri dengan tes tertulis? apakah tidak ada cara lain selain tes tertulis untuk mengetahui standar pendidikan bangsa? apakah tes tertulis ini hanya bermaksud untuk meringankan tugas pendidik dan para petinggi BSNP dalam mengukur standar pendidikan bangsa?.

Pertanyaan-pertanyaan ini pada akhinya menginspirasi saya untuk membuahkan setitik solusi. Mengapa tidak pelaksanaan UN ini diubah format ujiannya jangan lagi menggunakan tes tertulis, tetapi lebih ke tes secara komprehensif menilai kemampuan siswa baik secara lisan maupun tulisan. Mengapa tidak evaluasi akhir gaya Perguruan Tinggi diterapkan juga di tingkat SMA dan SMP, yakni dengan model pembuataan dan penyusunan laporan karya tulis lalu dipresentasikan di hadapan juri. Juri yang menilai bisa berasal dari guru terpilih dan pihak Diknas daerah setempat atau pun langsung dari pusat. Model evaluasi ini bisa dilakukan pada setiap mata pelajaran yang ada. Saya yakin bentuk seperti ini akan lebih objektif dan efektif dalam mengukur tingkat kemampuan siswa, walaupun ini jadinya akan tidak efisien, tetapi apalah sebuah arti waktu, tenaga dan pikiran demi untuk mewujudkan pendidikan Indonesia yang berkualitas dan terstandarisasi dengan jujur tanpa ada upaya kecurangan dibaliknya.(RT)

Januari 26, 2008

Welcome to Chelsha’s Homepages

Filed under: Tak Berkategori — chelsha @ 5:54 am

Hi, all guys… How are you? Really fine? In my homepage u can see a little of my life, my hobby and others…

This one which i like..

POEMS

Takdir Sunyimesti berapa musim lagi
kujelmakan takdir ini

 

takdirku senantiasa bernama adam
yang kesepian sejauh perih waktu
burung-burung tersesat
bermusim-musim dalam alir nadiku

pada bening keningmu aku bercermin
meneliti guratan masa silam
yang ranggas bersama buah-buahan kutukan
o, begitu buruk rupaku?
angin liar menampar kesangsian
aku makin asing dari wajahku

mesti berapa musim lagi
kejelmakan takdir ini

ular-ular bersarang dalam nafsuku
mengerami telur-telur hawa
dan dosa semakin hangat
dalam dekapan takdir sunyi ini

Januari 21, 2008

Halo dunia!

Filed under: Tak Berkategori — chelsha @ 6:18 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.