|
|||
|
DI suatu senja, ibu berkata padaku, “Ibu tak punya rahim.”Terang saja pengakuan ibu benar-benar mengagetkan aku. Sebagai anak sulung ibu, jelas hal ini sedikit banyak membingungkan. Aku tak ingin membuat bingung tiga orang adikku yang masih kecil-kecil. Kasihan, pikirku. Lagi pula, bukankah konon anak sulung sebaiknya lebih memahami ketimbang anak kedua, ketiga, dan keempat. Adikku, Kaka, saat ini masih duduk di bangku kelas I SMP. Adikku berikutnya, si manis Pandu, duduk di bangku kelas IV SD, dan si kecil, Lalang, kini masih duduk di kelas I SD. Sebagai perempuan yang baru memasuki usia kepala dua, kupikir wajar saja jika aku menduga, ketiga orang adik laki-lakiku akan sulit memahami jika tiba-tiba aku bercerita pada mereka bahwa Ibu tidak punya rahim. Ya, tentang ibu yang tidak punya rahim. Lantas bagaimana kami yang tak pernah minta dilahirkan bisa terlahir ke dunia ini? ** KATA ibu, di perutnya tersimpan ketulusan seorang perempuan. Sempat aku berpikir apa ibu sedang kemasukan sesuatu hingga pikirannya semacam kesetrum atau kepala ibu terantuk suatu benda tajam, atau jangan-jangan…. Tapi rasanya tidak mungkin. Ibu bukan seperti ibu kebanyakan. Ibu seorang perempuan yang tenang dan bijaksana. ibuku yang berparas elok berhati cantik. Di mata Ibu yang teduh selalu terpancar kedamaian. Damai yang tak pernah bisa kulihat di mata banyak orang, apalagi di mata laki-laki. Dulu pernah aku berpikir, apa mata semacam ini hanya bisa dimiliki perempuan? Hingga ketika adik laki-lakiku satu per satu tiba-tiba mengisi rumah kontrakan mungil kami, aku menemukan mata menyerupai mata ibu. Mungkin karena dia keturunan ibu, matanya pun harus mirip ibu. Kalau mataku, jelas, karena aku anak ibu dan aku perempuan, sepasang mataku nyaris persis seperti mata ibu. ** JIKA ibu tak punya rahim, berarti kami anak siapa? Pertanyaan ini benar-benar mengusikku. Dulu saat usiaku belasan tahun, pernah aku berpikir, betapa menderitanya terlahir sebagai seorang perempuan. Pak guru berkata, “Seorang perempuan harus bisa menjaga dirinya. Kehormatannya. Kesuciannya.” Bukan cuma pak guru, bibiku juga mengatakan hal serupa. Kata bibi, derajat seorang perempuan bergantung pada bagaimana dia menjaga kehormatannya. Awalnya kata-kata mutiara macam itu kuterima saja mentah-mentah. Kupikir, kehormatan itu adalah amal kebaikan yang seorang perempuan perbuat dalam hidupnya. Dan kesucian itu adalah cinta yang tulus pada kehidupan dan sesama. Belakangan aku tahu bahwa aku keliru. Kebanyakan orang ternyata tak menghubung-hubungkan perkara kehormatan, derajat, kesucian, dengan kebaikan dan cinta yang tulus dari hati seorang perempuan. Kebanyakan orang ternyata mengaitkan perkara-perkara kemanusiaan macam itu menjadi persoalan selangkangan. “Betapa anehnya, Bu,” ujarku pada ibu saat kami mendiskusikan perkara ini beberapa tahun lalu. “Iya, sayang. Dunia tempat kita hidup memang dunia yang penuh keanehan.” “Ibu tak bisa membayangkan apa yang dialami Ranti, teman sekolahku, saat dia mengandung anak karena diperkosa. Apakah perkosaan itu terjadi karena Ranti tak bisa menjaga kesuciannya? Kehormatannya? Apakah kehamilan Ranti karena derajatnya rendah?” aku menangis meraung-meraung. Ya, raungan seorang perempuan yang sedang beranjak menjadi perempuan dewasa. Raungan seorang perempuan yang tak bisa menerima kenyataan bahwa nyawa sahabat perempuannya akhirnya melayang di tangan dukun beranak dalam upaya pengguguran kandungan. Aku tahu Ranti belum tahu hendak diapakan bayi dalam kandungannya. Dia belum memutuskan apa yang bisa diperbuatnya dengan kondisi tubuhnya yang berbadan dua. Mungkin saja Ranti akan melahirkan bayinya. Tapi pastilah ini aib di masyarakat tempat aku dan Ranti hidup. Orang akan terus bertanya, siapa bapak bayi Ranti. Dalam kebingungan itulah, bapaknya memaksa Ranti menggugurkan bayi dalam rahimnya. “Betapa pedihnya melihat pandangan teman-teman dan guru-guru di sekolah pada Ranti, Bu…. Aku tak tahan. Mereka bukan berempati. Mereka melihat Ranti seperti onggokan daging busuk. Ranti tidak lagi suci. Ranti tidak lagi terhormat.” Sejak saat itu, bagiku, kata-kata mutiara bukan lagi kata-kata mutiara. Entah siapa pembuat kata-kata itu. Kata-kata yang menghujam jantung perempuan. “Perempuan sebaiknya membuat kata-kata mutiaranya sendiri. Sebab hanya perempuan yang tahu mana mutiara dan mana peluru yang mematikan,” kata Ibu. Ibu dengan setia menemani raunganku. Ibu tahu, tak perlu mendiamkan hati perempuan yang terluka. Biarkan saja. Ibu hanya membelai-belai rambutku dengan mesra. Mesra sekali. Kutumpahkan tubuhku dalam pelukan ibu. Kurasakan tubuh ibu yang kian menua. Ya, tubuh perempuan ini tak lagi seperti dulu. Ia tengah menua. Tubuh ibu kini kurus berbalut kulit keriputnya. Tapi ibu tetap cantik… cantik sekali. Dan mata ibu… mata ibu tetap membawa damai. ** DI suatu senja, ibu berkata padaku, “Ibu tak punya rahim. Bapakmu yang punya rahim.” Terang saja pengakuan ibu benar-benar mengagetkan aku. “Baiknya ibu bercerita tentang rahim yang tidak ibu punya. Ini akan sangat melegakan aku, Bu…,” rayuku pada ibu. Bertahun-tahun ibu mengelak dari rayuanku. Ibu tak hanya membuatku bingung, tapi membuat aku menjadi sangat berhati-hati dengan laki-laki. Aku takut laki-laki punya rahim, seperti bapakku. Bapak yang telah mencampakkan ibu tanpa pesan. Bapak yang telah menghilang bak ditelan bumi. Hingga akhirnya, suatu waktu yang dirasakan dan diputuskan oleh ibu, ibu bercerita panjang tak lebar, “Ibu menikah dengan bapak pada usia belasan tahun. Kata bapakmu, dia terpaksa menikah dengan ibu demi membahagiakan keluarganya. Bapakmu tak pernah mencintai ibu. Bapakmu mencintai seorang perempuan. Hanya seorang perempuan. Dia seorang pelacur. Kepada perempuan itulah bapakmu menyerahkan cinta dan tubuhnya.” “Lalu…,” aku tak kuasa menahan sesak yang tiba-tiba mulai memenuhi dadaku. Hati perempuan mana yang tak terluka mengetahui suami yang dicintainya mencintai seorang perempuan lain dengan penuh. “Ibu membiarkan bapak terus mencintai perempuan lacur itu?” “Bagaimanakah kita hendak lari dari misteri cinta, sayang? Bapak tak pernah sedikitpun menyentuh ibu hingga ia meninggalkan ibu dengan empat orang anak dari rahim perempuan itu.” “Perempuan lacur bapak?” kataku terbata-bata. “Perempuan kekasih bapak.” Perempuan itu bilang, “Perempuan seperti aku tak pernah benar-benar memiliki rahim. Setiap aku hamil, orang akan bertanya siapa bapak bayi ini. Tak pernah sekalipun mereka puas bahwa aku adalah ibu bayi di rahimku, yang kurang lebih sembilan bulan kucinta-cinta dan kelak pada waktunya kupertaruhkan seluruh hidupku, membiarkan tubuh mungilnya merobek vaginaku. Berdarah-darah…. Tidak juga suamimu, yang terus mengaku mencintaiku, tapi tak pernah punya setitik pun keberanian untuk mengakui keberadaanku, mengawiniku. Tahukah kau hati seorang perempuan pelacur? Dia tetaplah berhati perempuan.” “Lalu….?” Seribu jarum tiba-tiba seperti menusuk-nusuk kepalaku. “Empat kali proses kelahiran jabang bayi dari rahimnya, ibu setia menemani perempuan itu. Segala sakit, derita, dan bahagia perempuan itu seperti mengalir lewat remasan tangan dan erangannya yang terus menggema di telinga ibu. Di tengah derita dan pedih yang memenuhi seluruh rongga hatinya, perempuan itu melahirkan dengan gagah berani. Tak seorang pun dapat membantah bahwa bayi yang dilahirkan perempuan itu adalah bayinya. Bayi-bayi mungil tak berdosa, yang terlahir di tengah hujan pertanyaan: siapa bapak bayi ini? Anak-anak yang mengemis cinta dalam rahim perempuan itu adalah buah cinta ibu. Anak-anak yang terlahir dari rahim perempuan itu adalah anak-anak ibu.” Bertahun-tahun aku mencoba mengendapkan cerita ibu. Bertahun-tahun, rasanya berabad-abad, aku belajar memahami apa yang tersembunyi di mata perempuan yang mengaku tak punya rahim itu. Benarkah ibu tak punya rahim? Benarkah aku terlahir dari rahim seorang pelacur bapak? Lantas…. Ah, terlalu banyak pertanyaan yang tiba-tiba menggema di kepalaku.*** |
Mei 15, 2008
Ibu Bapak
Tinggalkan sebuah Komentar »
Belum ada komentar.
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
