Chelsha’s Weblog

Mei 15, 2008

The POEMS

Filed under: Tak Berkategori — Tag:, — chelsha @ 9:49 am

[Ruang Renung # 234] Mawar, Melati dan Puring

“Buat apa menulis atau membaca puisi? Puisi tak akan membuat kita kenyang…” Pernahkah dilabrak dengan pernyataan seperti itu?

Bahkan, petani pun menanam kunyit, jahe, daun katuk, dan ubi kayu di sisa sedikit lahan di pematang juga di dekat pondoknya. Tanaman-tanaman itu tidak akan pernah membuat kenyang. Si petani kenyang ketika ia makan nasi yang kelak dipanen dari padi yang ditanam di sawahnya. Kunyit, jahe, daun katuk, dan pucuk ubi kayu menjadi lauk dan lalap pendamping ketika petani mendapatkan kenyang dari si nasi.

Apakah petani dilarang menanam yang selain padi itu karena tidak akan bisa mengenyangkannya?

Bahkan si petani pun kadang menanam mawar, melati, puring di halaman pondoknya itu. Mawar, melati yang ia petik bunganya, ia dapatkan wanginya dan ia taburkan di kasurnya.

Apakah petani tak boleh menanam mawar, melati dan puring?

 

 

Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 9:14:00 AM

 

 


Saya menulis 11 Gurindam. Kompas memuat 9. Inilah dua Gurindam yang tak termuat itu.

10. Gurindam Pasal yang Kesepuluh:
Menuju Sajak, Jalan Sajak

Bila kau berkata, “aku sedang menuju sajak!”
Yakinkah kau? Kau sedang menempuh jalan Sajak?

Bila kau berkata, “aku telah sampai pada sajak!”
Tahukah kau? Selalu ada yang lebih Sajak dari sajak?

Bila kau berkata, “aku telah menemu yang paling sajak!”
Sadarkah kau? Saat itu kau ditinggalkan banyak sajak?

Bila kau berkata, “aku bersajak, ah, percuma saja!”
Padahal sajak adalah pemakna pada yang sia-sia.

Bila kau berkata, “aku tak menemu diri dalam sajakku”
Sajak membawa kau mengenali dirimu dalam dirimu.

11. Gurindam Pasal yang Kesebelas:
Ladang Sajak, Ladang Mawar

Tanah hitam di ladang sajak yang mawar,
menyimpan cinta, mendekap tubuh akar.

Embun mandi di ladang sajak yang mawar,
memanggil, lalu datang pelangi selingkar.

Sinar matahari di ladang sajak yang mawar,
mengecup pipi pagi, rindu semalam terbayar.

Semak gulma di ladang sajak yang mawar,
tanggal gugur duri, tinggal sesulur yang sabar.

Angin datang lalu, di ladang sajak yang mawar,
memetik wangi-wangi, menebar benih kabar.

Diam batu di ladang sajak yang mawar,
menahan-nahan takjub meredam debar.

Siul-siul serunai di ladang sajak yang mawar,
ketika sepi pun ia, alangkah merdu kau dengar.

Burung hinggap di ranting sajak ladang mawar,
bermimpi rajut sarang di mekar kelopak mekar.

Akulah Petani Puisi, di ladang yang mawar,
memetik sajak-sajak di tangkai cahaya fajar.

 

 

Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 9:02:00 AM

 

May 12, 2008

  Kebohongan tentang Jakarta, Mikael!

         Dalam diri orang sinis adalah seorang
         idealis yang kecewa — George Carlin

AKU tak tahu seperti apa
         rasanya dikangkangi New York, Tuan Rendra!

Aku melihat pedih di selangkang Jakarta
Aku melihat seribu cukong berak di atas kepalanya.

Kakiku sebelah tertinggal di Soekarno-Hatta,
aku lari pincang dan tak sampai juga ke Istana Negara
Maskapai Lion Air itu tadi
         bikin papan jadwal mahal itu tidak berguna.

“Buat apa singgah di istana?”
         kudengar seperti Binhad yang bertanya,
         “Presiden tidak ada, dia sedang menyusun
         pidato di rumahnya,
         dia mau tampil di Asian Idol, ha ha ha ha!”

“Datang saja ke Kampus Lidah Buaya.
         Barangkali masih bisa kau temui Tardji di sana,
         malam belum terlalu tua, biasanya
         ia sedang menghitung sajak dan sisa usia.”

Dan Jakarta menyala,
(Jakarta selalu menyala)
         huruf-huruf raksasa memaksa mataku membaca
         berbagai merek rokok, kondom dan pil stamina.

[Dan aku hanya Kavi Matasukma,
aku mencari kekasihku Shania Saphana.
Aku tahu dia tak ada di manapun di Jakarta,
aku datang, biar saja, aku hanya mencarinya.
Aku hanya ingin teriak bertanya, "Jakarta, di mana
kau sembunyikan kekasihku Shania?"]

AKU tak bertemu kubur-kubur pergi
         berlayar membawa pelabuhan, Tuan Tardji!

Aku melihat Jakarta berjalan mengangkang
Aku melihat tangan-tangan menadah pada selangkang.

Sebelah tanganku masih berpegangan di tangga pesawat.
Kalah gesit dengan tangan dari kota-kota yang jauh,
tangan Surabaya, tangan Papua. Mungkin juga Yogya.

Tangan yang mengepal dan mengacung sambil berseru:
“Aku menantangmu Jakarta, lawanlah aku, hei Penyair Tua,”
kudengar seperti Saut Si Penyerang. Menyerang.
“Sampai tak ada hutan lagi. Tak ada kayu lagi,
di Jakarta yang suka berdusta. Ha ha ha ha!”

Si Penyair Tua tak sedang di sana. Ia sedang di Salihara
         membangun blackbox pertama di Jakarta.
         Saut, ia tidak menyiapkan makamnya.

Dan Jakarta terus menyala.
(Jakarta makin menyilau pada mata)
         Tapi orang-orang sembunyi di ruang remang.
         Sembunyi dari dusta sendiri.

Engkaukah itu? Lelaki tanggung yang bicara
         kebenaran tentang Jakarta? Membaca
         makalah di PDS H.B. Jassin, dengan ludah asin?
         (Aih, di Reader’s Digest aku mengutip George Carlin)
         Lalu memaki Sitok dan Nirwan,
         menahbiskan Jimmi Multazam sebagai penyairmu,
         sambil mengutip Tuan Rendra: Bersatulah
         pelacur-pelacur kota Jakarta! Ha ha ha ha!

Engkaukah yang tak lagi berpura-pura bekerja di
         Jurnal Perempuan? Tapi kenapa pula berpura-pura?
         Begitu angkuhkah tubuhmu untuk meneteskan
         keringat, setetes saja? Atau karena kau merasa
         telah berdialog dengan arwah Umar Kayam?

[Ah, aku hanya Kavi Matasukma,
aku mencari kekasihku Shania Saphana.
Aku tahu dia tak ada di manapun di Jakarta,
tapi bolehkah kubayangkan kau pertemukan
kami di Stasiun Kota? Atau di dindingnya
kutuliskan saja, "Kavi Matasukma tidak dari
mana-mana, di manakah kau Shania Saphana?]

 

 

Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 10:22:00 AM

 

 

 

Bob Marley, karya Agus Suwage, Galeri Nadi. Mendampingi sepuluh sajak dari blog ini di Kompas Minggu 11 Mei 2008.

 

 

Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 8:47:00 AM

 

May 10, 2008

  Sebuah Denah pada Sebuah Undangan Pernikahan

           : teguh dan hening

Dari Pekalongan, melintas rel kereta
Lurus saja bila tak ingin ke terminal
Dari berseorangan akhirnya engkau berdua
Lurus. “Tapi jalan ini kan kian terjal..”

Kulihat tiga simpang, tiga lampu lalu lintas
Sebelum gedung di seberang rumah ibadah
Kukira semula itu bimbang, yang sempat melintas
Bukan, bukan, katamu, “lihat kami mulai langkah”

Dua arah jalan dari dan ke Kota Tegal
Keduanya tidak menunjuk mana mata utara
Dari dua keyakinan ke satu ingin yang tunggal
Keduanya tidak lagi hanya menyebut satu nama

Gedung itu ada di ruas jalan: Jalan Pemuda
Di mana kota itu, Pemalang nama tempatnya
Mendung menipis menepi, tak lagi mengabut dada
Di mana doa itu, “Di Sajakku kupanjatkan jua”

 

 

Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 8:45:00 AM

 

May 8, 2008

  Engkau Flu, Mikael?


AKU dengar suara bersinmu:
A Teeeeeuuwwwwwwwwww!

 

 

Hak cipta pada hasan aspahani; ; Ada Komentar? 7:30:00 AM

 

May 7, 2008

  Semakin Mikael Semakin Baik

1. Malam itu engkau lapar sekali setelah
    terjaring jejaring 25 jam menyelancari
    situs-situs puisi (bukan yang liris tentu saja),
    engkau akan memilih…:
    a. Bubur babi dan bir Heineken, ataukah
    b. Roti Bakar Eddy + Coca-Cola tanpa gula.

2. Manakah yang bukan kalimat petikan dari
    John F Kennedy?
    a. Ketika politik kotor, peluru membersihkan.
    b. Ketika penyair keracunan sajak liris, siapa
    yang harus mengingatkan.

3. Siapa yang engkau pilih untuk engkau kencani:
    a. Cinta Laura, lalu kau ajari bibir dan lidahnya
    (dengan bibir dan lidahmu) bagaimana melafalkan
    kata-kata dalam Bahasa Indonesia
    b. Rebecca, lalu ia mengajarimu bernyanyi dengan
    sesedikit mungkin membuka mulut dan menggerakkan tubuh.

4. Apa yang lebih baik…
    a. Seorang cucu yang melupakan aroma batik gendongan
    neneknya.
    b. Atau seorang nenek yang hingga ke liang lahat
    mengenang aroma pesing ompol cucunya.

5. Kau akan segera mengangguk pada permintaan yang mana?
    a. Menggantikan Mice menjadi pasangan Benny di halaman
    kartun Kompas Minggu.
    b. Atau menggantikan Hasif Amini menjadi redaktur halaman
    puisi di koran yang sama.

6. Kemampuan bahasamu ingin diuji dengan cara apa?
    a. Menerjemahkan lagu Lir Ilir ke dalam berbagai bahasa dunia.
    b. Menenerjemahkan sajak-sajak anak Buma ke dalam bahasa
    Inggris, dan Jawa.

 

 

1 Komentar »

  1. uapex tenan

    Komentar oleh chelsha — Mei 15, 2008 @ 9:50 am


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.